SIAPA SANG “MONSTER” MATEMATIKA? PELAJARANNYA ATAU PENGAJARNYA?

Materi2 Seminar Online WRM-BUKAMATA

Oleh: Ir. Bekti Hermawan Handojo

If you can’t do the math
Then get out of the equations…
Is it a minus or a plus
You can spend your whole life analizing
Justifying, quantifying, and dividing
‘Til there’s nothing anymore
Sure I want someone to understand
But I don’t need the stress

(Math, by Hillary Duff; from Metamorphosis Album, 21st Century)

Penggalan lirik lagu berjudul MATH yang dibawakan oleh penyanyi cantik Hillary Duff tersebut di atas jelas – jelas menggambarkan betapa membosankan dan menakutkan apa yang disebut matematika itu.

Dan pada kenyataannya masih banyak anak didik kita (bahkan diri kita sendiri sebagai orangtua atau guru) mengikuti dan menyakini apa yang digambarkan sekilas dalam lirik lagu tersebut. Lagu MATH beredar di tahun 2003 atau 2004, saya kurang tahu pasti. Tetapi yang pasti adalah: di abad 21 ini masih banyak orang yang menganggap matematika itu sesuatu yang “jauh di sana” sesuatu yang “ditakuti” dan sesuatu yang perlu “dihindari”.

MENJADI BERBEDA

Seperti telah dibahas pada Bagian Pertama Materi Seminar Online ini, yaitu bahwa sebelum menguasai matematika, anak harus terampil dalam penguasaan dan pemahaman proses berhitung.

Tetapi kita sering berpikir bahwa proses berhitung hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Contoh paling sederhana yang saya temukan adalah pada buku textbook Matematika 3B anak saya masih terlihat cara – cara mengerjakan perkalian sama persis dengan apa yang telah saya pelajari ketika saya kelas 3 SD sekitar 30 tahun yang lalu!

Apakah hal ini termasuk dalam kategori berita baik atau buruk?

Berita baiknya adalah jika memang cara perkalian yang ada dalam buku tersebut sama persis dengan yang ada pada buku sekolah saya 30 tahun yang lalu, secara logika seharusnya anak saya tidak perlu membeli buku baru. Cukup menggunakan buku bekas yang pernah saya gunakan! Faktanya sekarang setiap tahun anak saya harus membeli buku pelajaran matematika baru!

Oleh sebab itu saya lebih memandang hal ini sebagai berita buruk! Masa iya sih, sudah sekian lama, 30 tahun yang lalu, anak – anak kita diajarkan cara – cara yang itu – itu saja? Memang tidak ada yang salah dengan cara – cara perkalian konvensional di buku – buku matematika SD (saya belum sempat melihat di buku matematika SMP, mungkin saja menghadapi hal yang sama). Tetapi yang menjadi “pertanyaan besar” saya adalah:

  • APAKAH CARA BERHITUNG DI BUKU MATEMATIKA SD YANG ADA SAAT INI MERUPAKAH CARA WAJIB YANG HARUS DIAJARKAN PADA SEMUA ANAK?
  • BAGAIMANA JIKA ADA CARA LAIN YANG LEBIH SEDERHANA DAN MUDAH?
  • APAKAH CARA BARU ITU HARUS KITA TOLAK KARENA DIANGGAP TIDAK MEMATUHI KURIKULUM YANG TELAH DITETAPKAN?

Dalam 4 tahun terakhir ini saya selalu menyempatkan diri belajar bersama anak – anak saya, Agung dan Adinda. Hasil yang saya peroleh sungguh di luar dugaan saya. Agung masuk dalam 10 besar di sekolahnya dan Adinda sudah bisa menghabiskan 5 komik dan majalah dalam sehari pada usia 5 tahun! (usia 4 tahun Adinda sudah lancar membaca).

Apakah ini berarti anak – anak saya pandai? Bisa YA bisa juga TIDAK. Mengapa demikian?

Mungkin saja Agung dilahirkan dengan kejeniusan bukan matematis. Yang saya amati, anak pertama kami ini justru senang “olah gerak”. Dia lebih suka belajar secara fisik, tidak bisa belajar sambil duduk di kursi dan di atas meja! Kalaupun bisa, mungkin tidak akan tahan dalam waktu 1 jam! Pelajaran favoritnya juga bukan matematika atau IPA, melainkan olah raga. Dia juga suka berpantomin. Tetapi mengapa pelajaran matematika dan IPA bisa mendapatkan nilai bagus?

Bagaimana dengan sang adik, Adinda? Anak kami yang kedua ini berbeda dengan sang kakak. Kekuatan membacanya sungguh mengherankan setiap orang. Sehari dia bisa membaca hingga menghabiskan waktu 6 jam!! Itu semua dilakukan tanpa disuruh.

Di usianya yang belum genap 6 tahun ini, ketika saya amati, dia lebih cenderung memiliki imajinasi yang tinggi. Keterkejutan saya terjadi ketika Adinda menceritakan tentang seekor anak kambing yang sedang bermain bersama induknya. Dari mana dia memperoleh cerita itu? Mungkin bapak dan ibu sekalian tidak percaya jika saya katakan bahwa cerita itu muncul dari tembok atau dinding rumah yang berjamur karena terkena air hujan. Di sana memang terlihat samar – samar gambar mirip 2 ekor kambing yang terbentuk dari jamur (atau lumut?) yang menempel di tembok.

Namun demikian, mengapa Adinda sangat suka belajar berhitung dan bersemangat jika melihat angka – angka? Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tetapi semangat belajarnya yang begitu tinggi (lebih tinggi dari kakaknya) haruslah diarahkan dengan baik dan benar.

Selama 4 tahun terakhir inilah saya mencoba memberikan sentuhan lain pada pelajaran yang dianggap susah, yaitu matematika. Saya yakin bahwa kepercayaan diri pada anak – anak dalam hal berhitung dapat meningkatkan kemampuannya dalam menguasai matematika. Benar jika dikatakan matematika tidak hanya sekedar berhitung. Tetapi, penguasaan yang kurang baik dalam ketrampilan berhitung akan menjadi beban tersendiri bagi anak untuk belajar matematika.

Sentuhan lain dalam belajar berhitung yang saya ajarkan pada anak – anak saya adalah membiarkan anak – anak saya untuk memilih metode belajar yang diminatinya. Kita ambil contoh Agung, anak ini lebih suka melakukan penjumlahan dari belakang (satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya) sebagaimana yang terdapat dalam buku pelajaran matematikanya di sekolah. Tetapi, jika melakukan pengurangan, perkalian dan pembagian, dia lebih menyukai cara – cara apa yang kami sebut Matemagica. Kebebasan pemilihan metode ini mutlak saya serahkan kepadanya sepanjang hal ini masih dalam penguasaannya. Jika merasa bingung, kami sebagai orangtua mulai ikut campur dalam memberikan penjelasan. Lambat laun, karena sudah terbiasa dengan cara belajar seperti ini, kreatifitas berhitungnya mulai tumbuh seiring dengan semakin banyaknya materi pelajaran di sekolah.

Selain itu, ada tips dan trik tersendiri yang selama ini saya gunakan dalam belajar matematika bersama anak – anak saya, dan sampai sekarang masih efektif. Diantaranya, yaitu:

  • Biarkan anak memilih cara belajarnya sendiri. Mau duduk yang manis, mau jungkir balik, mau sambil tiarap sekalipun… biarkan saja. Tugas kita sebagai orangtua hanyalah menyampaikan materi pelajaran dengan baik dan benar.
  • Jika kita menginginkan anak mengerjakan 20 soal matematika, maka katakanlah: “Nak, ini ada 20 soal matematika. Nggak perlu kamu kerjakan seluruhnya karena Papa (atau Mama) tahu kamu bisa mengerjakannya. Kerjakan 10 soal saja, ya.” Biasanya yang terjadi malah anak mengerjakan seluruh soal!
  • Kepercayaan dan keyakinan diri kita kepada kemampuan anak juga turut menentukan harga diri sang anak. Saya selalu mengatakan: “Agung, hari ini kamu ulangan matematika, ya? Kira-kira kamu dapat nilai berapa? Bisa nggak kamu dapetin nilai 90?” Biasanya dalam hal ini sang anak akan menawar: “Pa, ini kan ulangan matematika, pasti agak sulit. Bagaimana kalau dapet 70, boleh nggak, Pa?” Dan biasanya saya selalu tawar lagi: “Emm… baik, bagaimana kalau 80 aja? Papa yakin kamu bisa dapetin nilai itu. Bagaimana?” Dan tawar-menawar ini biasanya kami akhirnya dengan NILAI PERSETUJUAN BERSAMA. “OK Pa, 80 aja! Kalau dapet 75 masih bagus kan, Pa?” Saya akan jawab: “Ya, tidak apa-apa.” Akhirnya kami setuju nilai 75. Tetapi faktanya, setiap hasil ulangannya dibagikan, Agung selalu mendapatkan nilai lebih tinggi dari NILAI PERSETUJUAN. Ini adalah salah satu bukti bahwa kepercayaan diri sang anak akan menentukan hasilnya. Coba kalau kita bebani sang anak dengan kata-kata: “Pokonya kamu harus dapat nilai 90 untuk ulangan matematika. Papa nggak mau tahu!” Jelas, kata-kata demikian akan membebani anak!
  • Tunjukkan bahwa belajar berhitung atau matematika bertujuan tidak hanya supaya dia pandai berhitung atau pandai matematika. Tetapi belajar matematika adalah untuk menjawab apa yang telah menjadi persoalan baginya. Katakanlah jika sang anak mengalami masalah dengan pembagian roti dengan sang adik. Maka katakanlah bahwa belajar matematika adalah agar dia bisa membagi dengan adil sepotong roti dengan sang adik. Tidak perlu kita katakan yang terlalu tinggi, misalnya: “Belajar matematika ya! Kamu harus bisa! Suapaya kamu besok bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa!” Waduh… biasanya anak malah bingung! Mungkin dia belum faham apa itu berguna bagi nusa dan bangsa. Katakan saja tujuan belajar itu dengan konkrit dan sederhana, jangan abstrak dan rumit!

Menjadikan belajar berhitung dan matematika dengan cara-cara yang berbeda dari biasanya bisa jadi akan meningkatkan ketrampilan berhitung sang anak. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat membangkitkan kepercayaan diri dan harga diri sang anak. Dengan demikian maka sang “monster” matematika sebenarnya sudah bisa kita usir. Dan justru sang “monster” akan menjadi sahabat bagi anak.

Baik terhadap Agung maupun terhadap Adinda, anak-anak kami, kekhawatiran yang selalu saya pikirkan adalah:

APAKAH PIHAK SEKOLAH DI MANA ADINDA NANTINYA MASUK KE JENJANG SD BISA SEDEMIKIAN CERMAT MEMPERHATIKAN ANAK KAMI ITU?

APAKAH KREATIFITAS MURID DALAM BERHITUNG DIAKUI DI SEKOLAH?

BAGAIMANA JIKA NANTI LINGKUNGAN SEKOLAHNYA TERNYATA TIDAK SESUAI DENGAN YANG DIA BAYANGKAN SELAMA INI? MASIH ADAKAH SEMANGAT BELAJARNYA?

BAGAIMANA JIKA NANTI IMAJINASINYA YANG BEGITU TINGGI TERNYATA TIDAK DITERAPKAN DI BIDANG MATEMATIKA? APAKAH ANAK KAMI AKAN DI “CAP” BODOH?

Semangat belajar anak-anak kami haruslah tetap terjaga. Ini sudah menjadi komitmen saya sebagai orangtua. Melihat daftar kekhawatiran saya terhadap Agung dan Adinda inilah yang menyebabkan saya berupaya untuk menjadi “berbeda” dengan sistem belajar di sekolah anak-anak kami. Baik berbeda dalam mendidik pelajaran sekolah maupun berbeda dalam mendidik pelajaran di luar sekolah.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kecerdasan yang diakui oleh sistem pendidikan di Indonesia adalah hanya dalam hal 3M, Membaca, Menulis dan Menghitung. Jika seorang anak mendapat nilai 5 untuk matematika, maka dengan segera dia divonis BODOH, meskipun pelajaran olah raga dan seni suara menuai nilai 9.

Apakah sistem pendidikan seperti ini ADIL?

KENDALA MENDIDIK BERHITUNG (MATEMATIKA) KEPADA ANAK

Kendala terbesar mendidik anak untuk meraih nilai bagus di bidang matematika, jika kita amati, bukan terletak pada sulit tidaknya mata pelajarannya. Tetapi lebih kepada hal – hal yang bersifat non teknis.

Kita ambil contoh:

Dalam persoalan pengurangan, berapa jawaban 1250 – 786 =?

Apa yang diajarkan guru selama ini (dalam 30 tahun selalu sama!), pasti langkah pertama adalah MEMINJAM. Pinjam 1 dari 5 sehingga 0 menjadi 10, kemudian kurangkan dengan 6, jawab 4. Kemudian pinjam 1 lagi dari 2 agar 4 menjadi 14 dan kurangkan dengan 8, jawab 6. Demikian seterusnya. Dan sang anak pasti disuruh meminjam pada angka sebelahnya jika angka di atas tidak bisa dikurangkan dengan angka di bawahnya. Pada soal di atas, dari mana anak harus meminjam? Dari angka paling depan! Bagaimana jika soal yang dihadapi 1.245.604 – 887.799 = ? Masihkah harus “pinjam” dari depan? Bagaimana dengan resiko kesalahan atau lupa mencoret angka yang sudah dipinjam?

Secara teknis hal ini sebenarnya bisa disederhanakan. Contoh pada soal 1250 – 786 = ?

  • Pertama, 1000 – 0 = 1000,
  • Kedua, 200-700 = -500, Kurangkan dengan 1000, 1000 – 500 = 500.
  • Ketiga 50-80= -30, langsung kurangkan dengan 500 menjadi 500-30=470.
  • Keempat, 0 – 6 = -6, langsung kurangkan dengan 470, 470 – 6 = 464

Lebih sederhana, mudah, tidak pinjam, resiko salah kecil! Secara teknis sudah terpecahkan dan ternyata soal menjadi lebih sederhana dan mudah. Lalu, bagaimana dengan kendala terbesar, yaitu non teknis?

Benar, kendala non teknis ternyata menjadi penghalang terbesar bagi sang anak untuk meningkatkan ketrampilan berhitungnya. Apa yang terjadi ketika anak kami, Agung, melakukan cara yang saya ajarkan pada soal 1250 – 786 = 464 di sekolahnya? Tanpa berpikir logis, sang pendidik menyatakan jawaban Agung salah. Alasan yang dikemukakan sang guru adalah karena Agung tidak menjelaskan proses perhitungannya! Apa alsannya 1250 – 786 = 464? Kalau tidak disertakan prosesnya, berarti Agung dicurigai nyontek!

Apa yang saya lakukan dengan kejadian ini? Pertama saya panggil Agung dan saya tanya dari mana dia bisa menjawab 1250 – 786 = 464? Dia menjawab dari dia sendiri. Tidak nyontek? TIDAK! Begitu dia berargumentasi.

Kedua, saya tanya kembali, jika tidak nyontek, coba jelaskan prosesnya. Dia pun menjelaskan prosesnya seperti yang pernah saya ajarkan dengan metode Matemagica. Hasilnya memang 464! Berarti secara logis dan teknis sudah terjawab. Dan tidak ada yang salah dengan hasil perhitungannya!

Ketiga, setelah terbukti Agung bisa menjelaskannya, saya langsung mencari waktu guna bertemu dengan guru kelasnya. Kebetulan rumah kami dan sekolah Agung hanya berjarak 100 meter, jadi sangat mudah untuk bertemu dengan para guru di SD tersebut. Setelah bertemu dengan guru kelasnya, saya protes keras atas “kesalahan” yang ditimpakan pada jawaban anak kami. Sang guru tetap ngotot bahwa Agung tidak menyertakan prosesnya, jadi dituduh nyontek!!! Saya katakan bahwa Matemagica tidak harus menuliskan proses karena proses berhitungnya bisa dilakukan di otak!

Sekali lagi Agung saya suruh menjelaskan prosesnya menggunakan Matemagica. Dan sekali lagi terbukti benar. Belum puas, sang guru mencoba memberika soal pengurangan lain, 2365 – 997. Tanpa disuruh dua kali Agung sudah menjawab secara lisan 2000 – 600 – 30 – 2 = 1400 – 32 = 1368.

Setelah terbukti, dengan ringan sang guru berkomentar: METODE APA INI? INI TIDAK DIAJARKAN DI SEKOLAH, TIDAK SESUAI KURIKULUM! JELASKAN SESUAI DENGAN YANG DIAJARKAN DI SEKOLAH!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, emosi saya memuncak mendengar komentar sang guru kelas. Apakah ini sekedar pembelaan sang guru untuk menutupi kelemahan dirinya? Atau memang dia takut menyalahi kurikulum yang sudah ditetapkan? Apa yang salah dari cara Agung menjawab, bukankah cara dan hasilnya baik dan benar?

INILAH YANG KAMI KATAKAN BAHWA GURU KADANG TIDAK BISA (ATAU TIDAK MAU?) MENERIMA KEBENARAN LOGIS..! DAN INI MENJADIKAN KENDALA BAGI ANAK UNTUK BERKREATIFITAS MENEMUKAN STRATEGI PEMECAHAN SOAL PERHITUNGAN..! INI SATU BENTUK “MONSTER” MATEMATIKA!

Saya pantang menyerah menuntut keadilan bagi anak saya. Saya usulkan untuk bertemu dengan kepala sekolah saat itu juga! Akhirnya kepala sekolah dapat memahami persoalannya dan menyatakan bahwa TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN CARA DAN JAWABAN AGUNG.

Kendala non teknis semacam itu hingga saat ini masih sering saya jumpai di sekolah anak-anak kami. Pengakuan dan penghargaan pada murid-murid kreatif masih jarang dilakukan di bidang matematika. Mengapa? Karena para guru sering beranggapan bahwa kreatifitas itu hanya bisa dijumpai dalam bidang seni, dan berhitung atau matematika bukan termasuk pelajaran seni!

Apakah ini kesalahan terbesar sistem pendidikan di Indonesia? Coba bapak ibu sekalian jawab. APA LAWAN KATA BELAJAR? Di buku – buku pelajaran Bahasa Indonesia selalu diajarkan bahwa lawan kata belajar adalah bermain. Pemaksaan pemahaman seperti itu sangatlah menyesatkan. Saat ini sudah banyak lembaga pendidikan yang menerapkan sistem belajar sambil bermain. Dan bukankah anak-anak kita ketika masih bayi dan tumbuh dewasa selalu belajar dari bermain? Bayi adalah contoh nyata bahwa bermain itu sebenarnya adalah belajar. Saat ini pun di Bogor sudah ada Sekolah Alam, di mana anak-anak diajarkan segala sesuatu termasuk ketrampilan hidup dengan bermain di alam terbuka. Dan sekolah ini, meski mahal menurut ukuran saya, sangat diminati orantua dan anak-anak!. Jadi lawan kata belajar sebenarnya adalah tidak belajar!

REVOLUSI PENDIDIKAN

Jangan terlalu berpikir yang bukan-bukan dengan kata revolusi pendidikan yang saya sampaikan. Revolusi pendidikan yang saya pikirkan sangat berbeda dengan kata-kata revolusi dalam arti fisik seperti Revolusi Boulsevich (Revolusi Oktober Besar di Rusia pada 1917), Revolusi Kemerdekaan Amerika, Revolusi Kemerdekaan Indonesia 1945, atau revolusi-revolusi lainnya yang hampir dapat digambarkan dengan hiruk pikuknya perang, darah, dan jerit tangis rakyat yang tidak mengerti tujuan revolusi yang sedang terjadi.

Saya kembali sejenak ke tahun 1985. Pada tahun 1985, saya masih duduk dibangku SMA kelas 2. Satu tahun sebelumnya, 1984 saya pernah menjuarai lomba pidato dalam rangka Hari Sumpah Pemuda di sekolah. Saya meraih juara harapan dengan tema pidato saya adalah: BREAK DANCE. Dan di tahun 1985 inilah saya kembali meraih juara, kali ini juara kedua, pada lomba pidato masih dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Saat itu saya membahas masalah: PEMUDA APATIS.

Dalam naskah pidato itu saya kemukakan bahwa dimasa itu ada 3 kelompok besar pemuda di lingkungan sekolah kami. Ketiga kelompok itu adalah:

  • Kelompok pemuda teoritis – konsepsionalis
  • Kelompok pemuda praktis – operasionalis
  • Kelompok pemuda apatis

Dari ketiga kelompok ini, yang paling tidak disukai oleh kita adalah kelompok apatis (cuek). Nah, sebagai orangtua pun, kita bisa dikelompokkan dalam 3 kelompok tersebut dalam memandang pendidikan anak-anak kita. Apakah kita masuk sebagai orangtua teoritis-konsepsionalis (banyak berteori dan menyusun konsep, tidak banyak kerja dan susah diterapkan), atau orangtua yang praktis-operasionalis (banyak bekerja, demo, tetapi tidak mendasarkan semua tindak tanduknya pada suatu konsep atau teori yang baik dan benar, dan ini sering terjadi pada demo mahasiswa kita!), atau masuk ke dalam kelompok orangtua yang apatis (alias cuek)?

Dalam kelompok satu dan dua itulah kita saat ini seharusnya berperan!.

Robert Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Rich Kid Smart Kid, juga mengatakan bahwa secara sederhana, Abad Informasi akan membawa perubahan diberbagai bidang kehidupan yang secara drastis akan meningkatkan jurang antara yang kaya dan yang miskin atau yang pandai dan yang bodoh. Bagi sebagian orang, perubahan itu akan menjadi berkat, bagi yang lain, itu akan menjadi kutukan. Dan bagi yang lainnya lagi, perubahan itu tidak akan membawa perbedaan sama sekali. Singkatnya:

  • Ada orang yang membuat segala sesuatu terjadi
  • Ada orang yang melihat segala sesuatu sedang terjadi
  • Dan ada orang yang mengatakan: “Apa yang sedang terjadi?”

Kita mau masuk dalam kategori kelompok yang mana?

Sungguh sangat berbahaya jika kita selalu berkata “Apa yang sedang terjadi?” pada dunia pendidikan anak-anak kita. Seharusnya kita sebagai orangtua (bahkan guru) termasuk dalam kelompok “orang yang membuat segala sesuatu terjadi”.

Di Abad Informasi ini perubahan dahsyat sedang terjadi dalam pendidikan anak-anak dengan munculnya teori MULTIPLE INTELLIGENCE (Kecerdasan Majemuk). Apa itu teori Kecerdasan Majemuk sudah bisa diperoleh di berbagai media. Sudah banyak judul buku yang mengungkapkan sistem pendidikan anak-anak berdasarkan teori Kecerdasan Majemuk. Mungkin sudah ratusan judul buku di Indonesia yang membahas hal ini. Bahkan mungkin sudah ribuan judul buku di seluruh dunia ini yang berbicara tentang Kecerdasan Majemuk seorang anak.

Jika sudah tersedia sumber melimpah tentang sistem pendidikan yang lebih baik dan benar, apakah kita masih termasuk orang-orang yang apatis, atau termasuk bagian orang yang hanya bisa berkata: “Apa yang sedang terjadi?”

Munculnya teori Kecerdasan Majemuk adalah salah satu contoh Revolusi Pendidikan yang sedang kita alami. Sementara Revolusi Pendidikan yang saya impikan sedikit berbeda, tetapi tetap mengacu pada teori Kecerdasan Majemuk. Tidak perlu terlalu rumit berpikir meski kita ingin masuk kelompok orang teoritis-konsepsionalis. Tidak perlu bekerja 24 jam jika kita ingin masuk kelompok orang praktis-operasionalis. Yang menjadi pikiran saya adalah:

  • Bagaimana seandainya para pendidik formal (guru) setiap saat mendiskusikan sistem pendidikan dengan para orangtua murid? Katakanlah dalam waktu satu bulan satu kali. “Pak, Bu… ini ada undangan dari pihak sekolah di mana putra putri bapak-ibu belajar, untuk mendiskusikan sistem mendidik apa yang terbaik bagi putra putri bapak-ibu sekalian. Dimohon datang pada hari Sabtu, Tgl-Bln-Th. Kami sangat mengharapkan kehadiran bapak-ibu sekalian pada acara tersebut.”
  • Atau pada kesempatan lain, seorang guru saya “mimpikan” datang kerumah kami dan mengabarkan serta mengajukan suatu metode belajar berhitung yang menurutnya baik dan benar, namun perlu didiskusikan dengan para orangtua murid.
  • Atau, saya juga “memimpikan” seorang kepala sekolah berteriak lantang kepada para guru staffnya: “Carilah sumber-sumber informasi yang dapat menjelaskan apa tujuan belajar dan pendidikan itu sebenarnya. Saya ingin mendiskusikan dengan para orangtua murid!”
  • Atau, atau…. Masih banyakkah atau-atau yang lain yang masih bisa kita impikan untuk mewujudkan Revolusi Pendidikan? Kita tahu, sebaiknya kita masuk dalam kelompok orang yang “membuat segala sesuatu terjadi”. Kita tahu bahwa kita harus masuk kelompok orang teoritis-konsepsionalis sekaligus praktis-operasionalis. Tapi, tahukah kita bahwa mendidik itu berbeda dengan mengajar? Revolusi Pendidikan bisa dimulai dari diri kita sendiri sebagai orangtua sekaligus guru bagi anak-anak kita.

Karena kita tahu, dalam Abad Informasi ini kita membutuhkan lebih banyak pendidikan baru, bukan lebih banyak pendidikan yang sama! Dan berhitung dengan Matemagica, adalah salah contoh Revolusi Pendidikan di bidang matematika dasar, bagi orangtua khususnya dan bagi para pendidik pada umumnya, secara kecil-kecilan!

RINGKASAN

Ringkasan yang akan saya kemukakan berikut ini mungkin lebih tepat merupakan kesimpulan pribadi saya. Bukan kesimpulan seminar ini. Tetapi, apa yang sudah saya lakukan dalam 4 tahun terakhir, mungkin bisa mewakili kesimpulan secara ringkas seminar ini secara menyeluruh nantinya setelah sesi tanya-jawab. Berikut ringkasannya:

  • Belajar berhitung (atau matematika) bukanlah “monster” yang harus ditakuti. Istilah “monster” justru sering muncul bukan disebabkan karena pelajarannya, tetapi lebih cenderung pada metode perhitungan dan cara penyampaian dari pengajarnya.
  • Keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak-anaknya haruslah secara nyata. Urusan mendidik anak bukan beban seluruhnya dari sekolah atau guru.
  • Diskusi yang berkesinambungan antara orangtua murid dan guru sekolah haruslah menjadi acuan dalam upaya meningkatkan motivasi belajar anak. Hal semacam ini sudah banyak diterapkan di Amerika Serikat.
  • Kebenaran logis dalam berhitung harus diakui sebagai bentuk kreatifitas murid (anak) dalam berhitung. Kreatifitas tidak hanya ada pada bidang seni!
  • Memberikan pengertian tentang tujuan belajar berhitung kepada anak dengan lebih nyata, bukan abstrak, akan membangkitkan gairah belajar sang anak.

Demikian sekilas ringkasan yang dapat saya sampaikan. Pepatah mengatakan: TIADA GADING YANG TAK RETAK. Oleh karena itu, saya sangat membutuhkan masukan dari para peserta seminar ini, baik dalam sesi tanya jawab, maupun dalam sesi di luar seminar ini. Itu semua adalah demi kemajuan kita bersama dalam upaya nyata meningkatkan ketrampilan berhitung anak-anak kita khususnya dan motivasi belajar di bidang lain pada umumnya.

sumber: http://marthatanti.multiply.com/journal/item/4

2 thoughts on “SIAPA SANG “MONSTER” MATEMATIKA? PELAJARANNYA ATAU PENGAJARNYA?

  1. Sebagai seorang Guru Kita terkadang selalu menganggap siswa kita Ɣªⁿƍ bodoh karena tdk mengerti yg kita ajarkan , namun kita tidak pernah intropeksi metode dan Media Pembelajaran Ɣªⁿƍ kita gunakan . Apakah sudah tepat dan efisien ?
    Tulisan ini memberikan Inspirasi bagi saya ,,,

    Thank’s

    1. itu yang sedang jadi perbincangan kami, manakah yang lebih penting, membina kemampuan berpikir matematika siswa atau melakukan proses perhitungan matematika dengan kurikulum dan langkah2 “monster” tsb. Sehingga menimbulkan paradigma di dunia pendidikan bahwa matematika adalah proses perhitungan dengan rumus-rumus dan simbol2, dan mengantarkan pada kesimpulan yang salah, yaitu proses perhitungan tanpa simbol dan algoritma matematika bukanlah matematika. Semoga PMRI bisa menghadirkan revolusi dengan solusi yg tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s